Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Romansa suatu sore

Kini aku terlempar ke masa lalu..

Masa ketika kau dan aku masih menjadi kita.
Kala itu kira-kira pukul lima sore.
Gerimis.
Rintiknya beradu dengan tanah, menghasilkan aroma yang terasa nyaman. 

Kita duduk di kedai tua..
Kau rupawan dengan kaos abu-abu mu, dan aku cantik dengan baju merahku.
Bercerita soal impian yang entah kapan terwujud.
Tersenyum malu ketika saling tatap.
Lalu gerimis itu, menambah romansa sederhana dalam cerita kita.
Bahkan dinginnya udara tak mampu merusak senyum kita.

Hingga tiba akhirnya
Kita terseret waktu.
Menyadari kalau kata "kita" tidak lagi ada
Kalau gerimis hanya menjadi penghalang di tengah hiru pikuk kota.
Atau mungkin lebih menyenangkan kalau dinikmati sendiri.
Kau dan aku hanya terbuai romansa sederhana kala itu.

Kita hanya akan lebih menyenangkan kalau menikmati gerimis masing-masing.
Kala itu kau rupawan dengan kaos abu-abu mu.
Dan aku cantik dengan baju merahku.

Setidaknya, itu memori indah yang masih tersimpan, saat ini.




                    ~kee😉

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peleburan Budaya di Tanah Flores

Membaca Pameran BARU, BARU. melalui kacamata Pariwisata

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan