Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.
Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.
Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa Adat Bena dan Desa adat Tololela, baru sehari setelahnya menuju Bukit Wolobobo (kalau cuaca cerah dan tidak ada kabut). Perjalanan dari Manulalu ke Kampung Adat Bena tidak membutuhkan waktu lebih dari 10 menit menggunakan mobil, sampai disana saya bersama Joseph dan Mariam bertemu pemandu lokal, mengisi daftar buku tamu dan memulai perjalanan. Aroma sirih pinang dan jemuran Vanili serta biji kopi arabika menyeruap ditengah udara dingin, yang entah sejak kapan sudah menyatu dengan napas kampung. Rumah-rumah adat berdiri kokoh, bertiang kayu dan beratap alang-alang dengan tulang rahang babi dan sapi sebagai ornamen pelengkap, kubur-kubur leluhur yang jelas terlihat tua bersaing dengan waktu, serta susunan batu megalitik seakan melingkari ruang waktu yang tidak benar-benar tua.
Ditengah kampung, berdiri Ngadhu dan Bhaga—dua simbol leluhur, dua penanda yang tak terpisahkan: lelaki dan perempuan, maskulin dan feminin, siang dan malam. Dari sinilah awal mula saya mulai menyadari, bahwa Perempuan Ngada bukan sekedar pelengkap, melainkan pusat pusaran kehidupan. Garis keturunan ditarik dari ibu, matrilineal bukan hanya soal siapa yang diwarisi, melainkan tentang bagaimana dunia dijaga agar tetap berdenyut. Saya lalu teringat tentang kehidupan lain diluar kota Bajawa, tentang bagaimana para perempuan harus berteriak menuntut kesetaraan. Namun disini, dalam kesunyian Bena sebagai interpretasi kota bajawa secara menyeluruh, perempuan justru diletakkan di jantung adat. Kesetaraan bukanlah wacana, melainkan napas sehari-hari.
Perjalanan saya bersama Joseph dan Mariam berlanjut menuju kampung adat Tololela, sebuah kampung kecil yang bersembunyi dikaki gunung Inerie. Berjalan melewati belakang kampung Bena, melewati kali, hutan bambu, tanaman-tanaman keladi berdaun besar tumbuh liar di sisi kanan kami sementara sisi kiri kami apalagi kalau bukan jurang, melintasi hutan dengan tumbuhan yang jauh lebih tinggi, jalur lava, dengan jalanan yang terjal memaksa langkah kaki untuk bersetia pada tanah. Tidak ada kendaraan, tidak ada mesin. Hanya tubuh, udara, dan waktu yang beringsut pelan. Perjalanan kurang lebih 7 kilometer dari kampung adat bena menuju kampung Tololela dengan berjalan kaki, dan saya tidak pernah benar-benar menyangka bahwa saya bersama Joseph(79) dan Mariam(78) akan bertahan dari gigitan nyamuk dengan sereh merah dihutan yang kami temui, lalu menggosokkannya di kaki kami masing-masing, atau mencium akar tumbuhan Tiger Balsm yang tumbuh liar untuk meredakan pusing. Tubuh saya akhirnya mengalami proses ketubuhan secara langsung bersama alam sebagai apotek, dan kami hanyalah murid kecil yang sedang belajar rendah hati.
Rumah adat Tololela tersusun melingkar, seolah ingin merangkul siapa pun yang datang, yang lelah akan perjalanan panjang, dan air kelapa muda menjadi pelepas dahaga yang begitu sempurna. Tak ada dinding tinggi yang memisahkan, yang ada hanyalah keterbukaan. Bercerita tentang kopra yang mereka jemur di halaman, tentang siapa yang menjaga rumah kalau anak cucu merantau ke pulau jawa, bahkan saya diajari mengunyah sirih pinang -yang ternyata sangat pekat dan memabukkan-. Pengalaman merasakan Sirih pinang seperti sedang merasakan waktu, berdebar, gugup, sabar namun selepas itu penuh euforia dan sarat makna setelah berhasil.
Max Weber, dalam gagasannya tentang disenchantment of the world, menjelaskan bahwa modernitas telah merasionalisasi kehidupan manusia. Segala sesuatu kini diukur dengan logika efisiensi, kalkulasi, dan produktivitas. Dunia yang dahulu penuh misteri, simbol, dan makna spiritual perlahan kehilangan pesonanya.
Manusia modern, menurut Weber, hidup dalam dunia yang “terkuak” oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak ada lagi rahasia yang tidak bisa dijelaskan, tidak ada lagi ruang bagi keajaiban. Dengan demikian, hidup menjadi rasional tetapi sekaligus kering dari pesona
Tetapi pada jalur tanah menuju Tololela, saya belajar bahwa tidak semua hal perlu efisiensi. Ada kebijaksanaan yang hanya tumbuh dalam kelambatan. Ada kesehatan yang hanya bisa dipetik dari daun liar, bukan dari farmasi global. Ada kesadaran diri yang hanya lahir ketika kita berjalan kaki, bukan melaju dengan mesin.
Mungkin, dunia tidak sepenuhnya disenchanted. Pesona masih ada, meski sering tersembunyi di jalur sempit di belakang kampung, di tengah hutan bambu, jurang, dan nyamuk hutan. Modernitas memang menyingkap dunia, tetapi alam selalu punya cara untuk menutup sebagian tirainya, agar manusia tidak lupa belajar rendah hati. Kesederhanaan yang ditawarkan oleh Suku Ngada bukanlah kemiskinan, melainkan cara lain untuk menyelamatkan dunia dari kehampaan akan manusia yang terlihat sibuk namun penuh ruang kosong.
Dalam simbol ngadhu dan bhaga, dua penanda kosmologi Ngada, pesan itu terpahat jelas. Ngadhu, tiang kayu yang mewakili garis laki-laki, dan bhaga, rumah kecil yang melambangkan garis perempuan, tidak pernah berdiri sendiri. Keduanya diletakkan berdampingan di tengah kampung, saling meneguhkan. Begitulah kehidupan dipahami: bukan sebagai pertarungan kuasa, melainkan tarian keseimbangan. Laki-laki dan perempuan bukanlah dua poros yang bersaing, tetapi menjadii poros yang saling menghidupi, seperti siang yang hanya bermakna karena ada malam, atau suka yang hanya bermakna bila ada duka.
Ekofeminisme lahir dari gabungan dua kritik besar: feminisme (kritik terhadap patriarki) dan ekologi (kritik terhadap eksploitasi alam). Tokoh seperti Vandana Shiva dan Maria Mies menekankan bahwa penindasan terhadap perempuan memiliki akar yang sama dengan perusakan lingkungan: keduanya lahir dari logika patriarki, kapitalisme, dan modernitas yang ingin menaklukkan, menguasai, dan mengeksploitasi. Perempuan sering diidentikkan dengan alam, kesuburan, keberlanjutan. Patriarki/modernitas cenderung menundukkan keduanya : perempuan direduksi pada posisi subordinat, alam direduksi menjadi komoditas.
Konteks Flores secara menyeluruh hari ini menjadi contoh nyata dari dinamika tersebut. Pembangunan proyek geothermal yang digadang sebagai “energi hijau” justru menghadirkan paradoks ekologis dan sosial. Perempuan, yang selama ini berperan sebagai penjaga air, penanam benih, perawat kebun, dan pengikat relasi sosial melalui praktik keseharian (menanam, memasak, meramu obat), menjadi kelompok paling terdampak. Hilangnya sumber air, tercemarnya tanah, atau berubahnya pola tanam berarti hilangnya ruang bagi perempuan untuk melanjutkan pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi. Dalam kerangka ekofeminisme, ini adalah bentuk penindasan ganda: penyingkiran perempuan sekaligus perusakan alam.
Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak bisa sekadar dilihat dari jargon “energi bersih” atau “modernisasi.” Ia harus dilihat dari siapa yang paling menanggung beban sosial-ekologisnya. Apakah perempuan yang kehilangan air dan tanah? Apakah masyarakat adat yang kehilangan ruang kosmologisnya? Atau para aktivis yang kehilangan kebebasan, bahkan nyawa?
Di era modern, ketika perempuan masih berjuang menuntut pengakuan, budaya Ngada justru mengingatkan bahwa hak itu sesungguhnya sudah lama melekat. Ia tidak diberikan oleh budaya barat, melainkan diwariskan. Perempuan bukan bayangan yang mengikuti di belakang, melainkan cahaya yang menuntun langkah. Dalam rumah adat, perempuan menjadi pusat pewarisan garis keturunan; dalam laku sehari-hari. Jika Weber menutup The Protestant Ethic dengan gambaran “iron cage” (sangkar besi), ekofeminisme mengusulkan jalan keluar: kembali pada nilai-nilai keberlanjutan, kesabaran, kesalingan—nilai yang sering dijaga oleh perempuan dan tradisi lokal.
Sore itu setelah pulang dari desa adat Tololela, saya, Joseph dan Mariam duduk di balkon belakang Heaven’s door-restaurant Manulalu- sambil menyesap minuman, kami menatap langit sore yang masih berkabut, tak berubah sedikitpun dinginnya, malah semakin menusuk tulang. Obrolan kami sederhana, tentang perempuan ngada yang menjadi penjaga keseimbangan kultural dan spiritual, tentang daun sereh merah yang ternyata sangat manjur menyelamatkan kaki kami dari gigitan nyamuk, tentang tanaman tiger balsm yang pada akhirnya terjatuh di hutan dalam upaya kami membawa pulang dan belum sempat memotretnya. Atau memang mungkin tanaman itu tumbuh bukan untuk kami bawa pulang. Kami lalu tertawa, perjalanan lintas flores yang bahkan baru separuh jalan ternyata berdampak penuh emosi terhadap proses ketubuhan kami.
Sampai berjumpa di catatan perjalanan berikutnya..
Luv,
Kee [ yang sedang bingung akan pengetahuan dan ketidaktahuannya]
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar