Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan
Dear the winner,
Hi..
Apa kabar kamu?
Masihkah kamu mengingatku? Teman lamamu, sahabat karibmu, gadis aneh yang memujamu. Semoga kamu baik baik saja.
Sudah lebih dari setahun lalu, aku menuliskan surat padamu.
Namun tak pernah sampai di tanganmu. Aku gugup. Terlalu gugup untuk mengirimkannya, lalu ku putuskan untuk menjaga surat itu. Sendirian.
Sampai pada hari ini, aku masih memujamu.
Sampai pada hari ini, aku masih mengagumimu.
Sampai pada hari ini, aku akhirnya menemukan seseorang untuk menemani hari-hariku.
Ya. Kau pasti tak menyangka bukan? Karena aku pun begitu.
Tak menyangka.
Setelah sekian lama, menunggumu.
Tuhan mengirimkan orang lain untuk ku.
Tidak. Aku tidak pernah berpikir kalau dia akan menggantikan posisimu.
Tenang saja, sofaku masih kubersihkan untuk kau tempati.
Dan jendelaku, masih menyimpan rindu untukmu.
Bagaimana dengan ruang tamuku?
Tak pernah ku ijinkan orang lain masuk ke dalam ruang tamuku. Ceritamu masih aman di dalam sana, dengan aroma yang tak pernah pudar.
Aku sadar, bahwa ada tawa yang tak ingin ku akhiri.
Ada tangis yang entah mengapa menjadi momen paling penting pada masa itu.
Ada suka yang selalu ingin ku pupuk.
Ada hati yang selalu ingin ku jaga.
Kau tau? Ada tiga hal yang paling sulit terucap di dunia ini.
"Maaf"
"Terima kasih" dan
"Selamat tinggal"
Ku beranikan untuk mengucapkan salah satu dari tiga kata itu.
Terima kasih.
Terima kasih karena membiarkanku menunggumu selama ini.
Karena sembari menunggumu, aku memperbaiki diriku yang mungkin saja selalu konyol di hadapanmu.
Karena sembari menunggumu, aku lebih mandiri.
Karena sembari menunggumu, aku mempersiapkan diriku untuk sesuatu yang lebih besar dari kedatanganmu.
Asal tau saja,
ketika aku menunggumu, dia datang menemaniku.
Katanya "sedang menunggu juga"
Ku iyakan untuk duduk di sampingku.
Lalu kami bercerita. Banyak sekali.
Aku menceritakan betapa rupawan dirimu.
Dia menceritakan betapa manis perempuannya.
Sampai malam menjelang.
Sampai bintang kejora tak sendirian.
Sampai jangkrik mulai berpadu suara.
Kami masih asik bercerita.
Terima kasih sekali lagi..
Karena menunggumu, aku tau rasanya di abaikan.
Lama, lalu berubah menjadi lelah.
Kemudian aku tersadar, bahwa dirimu hanyalah imajinasiku. Yang bermain begitu lama dalam kepalaku.
Dan dia datang, menghadirkan sesuatu yang nyata.
Menciptakan senyum tanpa harus ku berhayal.
Hadir tanpa harus ku pejamkan mata.
Bersuara tanpa harus mencari sunyi.
Yang menciptakan rindu,
Yang membayarnya dengan kehadiran randomnya.
Lalu di suatu hari, ku putuskan untuk meninggalkan rumahku. Sofaku. Ruang tamuku. Jendelaku. Dan berjalan menjauh..
"Akan ku ciptakan rumah untukmu" bisiknya di suatu malam.
Alisku saling bertaut, menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Biarkan pintumu selalu menanti kehadiranku. Biarkan jendelamu selalu merinduku. Biarkan ruang tamumu mendengarkan kisah kita. Dan takkan ku biarkan sofamu merana menanti hadirku." Lalu dia tersenyum, membungkuk, dan mencium keningku lembut.
"Perempuan manismu? Rumahmu?"
"Sama seperti dirimu. Kau kehilangan tamu mu, aku kehilangan rumahku."
"Aku tidak kehilangan tamuku. Dia tamu, sudah seharusnya dia meninggalkan rumahku" kepalaku tertunduk, menerawang kata yang baru saja terucap.
"Kalau begitu jangan biarkan aku menjadi tamumu. Jadikan aku tuan rumah. Bersamamu."
Kami tersenyum.
Kemudian sama sama berucap terima kasih, Padamu. Pada kalian.
Sincerely,
Me
Komentar
Posting Komentar