Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

A letter from stalker


To : the winner
From : stalker

It's been a long day, right? Umur 13 tahun hingga 20 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk sebuah kisah penantian.

Iya, sudah terlalu lama aku tak pernah melihatmu lagi. Menyaksikan senyum dan tawa renyah mu yg selalu sukses buat aku juga ikut terseyum. Asal kau tau saja, senyummu itu menular, dan sistem imunku sangat lemah untuk tidak terkena virus senyumanmu itu.

Aku benci harus mengatakan ini, tapi aku sangat merindukan mu. Kau mungkin tidak tahu apa apa soal aku, selain nama dan alamat d mana aku tinggal.
Aku benci kalau harus mengatakan bahwa aku sudah melihatmu selama 8 tahun belakangan ini, but i did.
Aku menunggumu, aku selalu melihatmu, bukan orang lain. Dan ini sangat menjijikan, aku tahu itu, namun aku sudah terlanjur nyaman berada di dalam lingkaran yg ku buat sendiri ini.

Kau itu seperti tetangga yang hanya sebentar berkunjung ke rumah ku, terkadang kita berbicara d balik jendela, lalu kau pergi dengan meninggalkan harapan dan rindu pada jendela rumahku, atau kau berbicara lama sekali d ruang tamuku, lalu kau pulang, tidak memperdulikan perasaan sofa ku yang sebentar lagi akan merana d tinggal pergi bgtu saja..

Aku bersama jendela ku, bersama sofa ku, selalu melihatmu. Menyaksikan mu ketika sedang jatuh cinta pada wanita idaman mu, menyaksikan mu yang patah hati di tinggal wanita terhebat mu, menyaksikan mu yang berusaha mencari cara untuk hidup kembali tanpa wanita mu, menyaksikan setiap inci pergerakanmu.
Kadang, ruang tamu ku bisa di jadikan tempat meluapkan perasaan mu pada wanita mu, aku bersama jendela dan sofa hanya akan menjadi pendengar yang baik bagimu. Kami bahkan menolak tamu yang ingin berkunjung, agar aroma parfum mu tidak hilang dgn cepat d sandaran sofa ku, atau jendelaku tetap menyimpan rindu hanya untuk mu bukan orang lain.
Aku merindukan mu yang kadang berubah menjadi pahlawan ku. Merindukan saat kita menertawai nasib kita.
Aku merindukan waktu ketika kau meletakkan kepalamu d bahuku, lalu membiarkan diri mu menangis beberapa tahun lalu ketika kita masih mengenakan seragam sekolah, berdiri di depan ruang kepala sekolah dan berharap agar kita tdk mendapatkan hukuman berat atas apa yang telah kita lakukan -menempel kertas to do list warna warni yg banyakk sekali d jendela kelas-, lalu aku juga ikut menangis.

Aku merindukan waktu kau memintaku membuatkan puisi untukmu di ruangan ekonomi. Aku merindukan kritikanmu terhadap tulisan ku. Aku rindu ingin menuliskan puisi untukmu, dan langsung memberikan nya padamu.
Aku rindu saat kau menyuruhku memakai sandal mu yang kebesaran, dan kau memakai sepatu kets kecilku.
Aku rindu ketika kita membicarakan hal random yang tidak bermakna tetapi menyenangkan.
Aku rindu segala waktu yang pernah kau habiskan bersama ku, kau adalah pemeran utama dalam kisahku walaupun mungkin aku hanya sekedar figuran dalam kisah mu.

Mungkin ini konyol sekali, tapi aku sungguh menginginkanmu. Kau lelaki pertama yang berhasil membuatku seperti ini, jatuh cinta. Tanpa alasan. Sampai saat ini, aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta, aku tidak tau bagaiman harus memulai percakapan dengan orang lain. Lingkungan ku begtu sederhana, kos - kantor - kampus lalu kos lagi. Begitu seterusnya. Tinggal d repeat saja. Aku bahkan bertanya tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa jatuh cinta dengan mudah, mendapatkan kekasih dengan mudah, sementara aku, aku masih terjebak begitu lama dalam bayangan mu. Kau tidak tahu. Sungguh kau tidak tahu hal ini. Tapi aku nyaman dengan keadaan ini. Menjijikan bukan?

Mungkin orang lain harus melakukan sesuatu atau memberikan ku hadiah agar aku bisa bahagia, tapi kau tidak perlu melakukan semua itu untuk membuat ku bahagia.
Sungguh. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Cukup tahu saja, bahwa aku selalu melihat mu. Selalu melihatmu. Dan akan selalu begitu.

Sincerely

Me.

Komentar