Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan
Setali Cahaya #1: Pantai dan Perihal yang Tak Sempat Kita Bicarakan, adalah sebuah pertunjukan teater kolaboratif yang disutradarai oleh Wulan Dewi Saraswati, bersama aktor Rio Nuwa, Studio Teater KAHE, dan komunitas AGHUMI. Pertunjukan ini benar-benar menghadirkan sensasi piknik yang sebelumnya hanya saya bayangkan—ringan, hangat, dan menggetarkan.
Para aktor berhasil menarik saya untuk kembali merasakan kenangan manis: duduk di pantai bersama orang terkasih, menikmati es kul-kul, diiringi suara ombak dan cahaya matahari yang mengelus perlahan. Namun, rupanya kehangatan yang mereka tawarkan bukan sekadar nostalgia yang lembut.
Kehangatan itu justru terasa terlalu hangat—sampai membakar isi kepala saya yang penuh tanya. Terlalu hangat hingga mengguncang ruang hati yang selama ini saya jaga dalam diam.
Dengan berbekal tiga pertanyaan kunci, saya dan para penonton, diajak masuk ke dalam ruang pertunjukan yang berubah menjadi ruang reflektif—sebuah lorong waktu yang memaksa kami menengok kembali hari-hari kemarin: yang hangat, yang tak selesai, yang tak sempat terucap.
Pada Fragmen #1, para aktor mulai memasuki ruang pertunjukan dengan gerak koreografi yang tampak kaku, perlahan, seperti mengendap-endap. Mereka mengitari panggung beberapa kali dengan ekspresi yang nyaris beku, seolah-olah hendak menyusup masuk ke ruang bahagia kita tanpa izin. Entah kenapa, ada perasaan tertekan yang muncul. Ada sesuatu yang mengendap di balik gerak mereka—sesuatu yang tidak kita mengerti, tapi kita rasakan.
Para aktor mulai bercerita. Tapi ini bukan kisah bahagia yang ringan dan polos seperti jajanan masa kecil - es kul-kul. Ini adalah cerita tentang hal-hal sederhana yang tak sempat kita bicarakan—tentang luka yang disembunyikan di balik tawa, tentang pantai yang menyimpan jejak kehilangan, dan tentang cahaya yang tak selalu menghangatkan.
Namanya: Pa.ri.wi.sa.ta.
Sebuah cahaya yang tampak bersinar, namun ternyata tak selalu memberi kehangatan.
Pertunjukan ini berpijak pada riset-riset yang dilakukan oleh Dimas Radjalewa, seorang magister Ilmu Linguistik dari UGM, yang memaparkan bagaimana pergeseran dalam frasa piknik, pesiar, dan pariwisata telah membawa kita menjauh dari akar budaya sendiri. Riset itu menjadi benang merah yang menuntun penonton untuk kembali menyelami esensi perjalanan yang sering kali kita lupakan.
Pada dasarnya, pariwisata mengacu pada people, place, and pleasure. Namun, dalam praktiknya sebagaimana ditunjukkan dalam riset tersebut— pariwisata justru lebih sering dikaitkan dengan industri, pembangunan, dan devisa. Maka pertanyaannya: di mana letak “people” dan “pleasure” itu kini? Ia bukan sekadar sarana liburan lagi, tetapi menjelma menjadi medan konflik makna dan kuasa
Fragmen #2 menghadirkan pengalaman spiritual sang sutradara, Wulan Dewi Saraswati, dan sang aktor, Rio Nuwa, di Pura Puncak Petali dan Liang Bua- dua ruang sakral yang kini berada di tengah arus kapitalisasi wisata.
Hari-hari ini, kita dihadapkan pada wajah pariwisata yang masif, sarat infrastruktur demi kelancaran dan kenyamanan para "tamu" yang membawa devisa. Namun, dalam proses itu, masyarakat lokal kehilangan suara atas tanah yang mereka warisi secara turun-temurun.
Hari-hari ini, kita mendambakan perjalanan sebagai sarana "healing", tapi justru makin terjebak dalam penat yang tak selesai.
Hari-hari ini, kita menyaksikan nilai-nilai budaya dikemas ulang dalam sentuhan modernitas, demi tampilan yang “menarik” dan “layak jual”.
Otentik namun fabrikatif.
Dalam fragmen #3 para aktor (Rio Nuwa, Silvy Chipy, dan Intan Mude) menyuguhkan pertunjukkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, sambil berlari membentuk pola berulang. Tergesah-gesah, kebingungan, namun pertanyaan tetap harus dijawab.
Bagi saya, dalam fragmen ini, terlihat jelas bagaimana kuasa narasi mampu menciptakan pandangan baru yang sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Ia adalah bentuk penjajahan lama yang mengganti bungkusnya. Bukan lagi bedil atau senjata bambu, tetapi investasi, branding, dan retorika pembangunan.
Sementara itu, dua aktor lain (Megs dan Angga) hadir dalam koreografi yang berbeda. Mereka berdiri dalam poros, menyusun eksplorasi tubuh yang gelisah, menegangkan, seperti ada perkelahian sunyi dalam tubuh manusia modern: antara logika kapital dan nilai-nilai kultural. saling timpang tindih, beradu kuasa, menentukan siapa yang layak menang, dan siapa yang harus mengalah.
Pertunjukan ini adalah semacam konfrontasi atas narasi besar yang dibungkus dalam kata “pariwisata”, sekaligus panggung keresahan atas suara lokal yang kian melemah.
Sampai akhirnya, sebuah puisi karya Erich Langobelen dilantangkan oleh para aktor sebagai penutup pertunjukkan :
“Kami adalah buah-buah pohon ibu, serupa tapi tak sama. Sejiwa hanya beda warna. Kami adalah akar yang tak pernah muncul ke permukaan, tetapi kami terus mengakar sedalam-dalamnya agar kalian tidak karam dan kami tak terjaga sepanjang malam. Jika kami ditolak sejarah, kami akan mengakar pada ibu—tanah kami.”
Pertunjukkan teater Setali Cahaya tidak menawarkan solusi instan. Tapi ia menyalakan cahaya lain—cahaya yang mengajak kita menatap, bertanya, dan menggugat. Dalam tubuh pertunjukan ini, kita tak hanya menonton; kita diajak merasakan. Dan dalam rasa itu, kita mulai memahami bahwa perjalanan bukan sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan untuk menentukan siapa yang bicara, siapa yang dibungkam, dan untuk siapa narasi-narasi pembangunan itu sebenarnya diciptakan.
Komentar
Posting Komentar