HAPPY NEW YEAR 2025 semua entitas berlogika dimanapun Kalian baca ini, Happy New Yearrrrrrrr!!!!!
Wishing you a blast days ahead!
*********Biasanya postingan ini selalu saya publish di akhir tahun sebagai bahan refleksi atas apapun pencapaian kita ditahun sebelumnya, atas segala keputusan yang kita ambil, atas segala emosi yang kita rasakan, semua luka, lebam, tawa dan goresan senyum.
Buttttttt.. today gonna be a bit defferent, karena hari ini tidak akan ada pembahasan masa lalu tetapi kita akan membahas masa depan. New year old memories? F*ck that attitude, yall.. new year better story better me!
Okayyy here we go!
Mari kita mulai dengan masa depan kita sebagai masyarakat Indonesia yang oh my god sangat amat tergantung pada beras padahal kita begitu kaya soal pangan lokal ditambah lagi iklim di negara kita sudah mulai tidak stabil, kek hts kamuu uhuuuk uhukk..
Pernahkah kita berpikir bahwa kenapa dari sabang sampai marauke harus makan beras? Wajib. Apakah hanya karena kita negara tropis tumbuh subur padi di ladang sehingga kita semua konsumsi nasi? Atau karena penyeragaman pangan yang sengaja dicetak diatas sawah lalu dihidangkan ke piring yang membuat meja makan kita menjadi seragam dari ujung ke ujung?
Padahal kalau di teliti lebih cermat lagi, tidak semua tanah di Indonesia layak menanam padi kan? Papua penghasil sagu, identitas mereka makan sagu yang walaupun rendah protein, namun orang papua paham bagaimana cara melengkapi protein yang kurang dengan tambahan lauk kuah ikan, ulat sagu dan yang lainnya untuk memenuhi kebutuhan protein mereka. Orang Sabu memiliki sebagian besar lahan yang kering, sangat tidak relevan kalau harus menanam padi, mereka bercocok tanam dengan jagung, sorgum, palawija yang seharusnya bisa menjadi menu utama tanpa harus ketergantungan pada beras. Jangankan diluar sana, saudara kita orang Palue pun tidak bisa menanam padi yang dilatarbelakangi oleh kepercayaan setempat, tetapi hasil bumi dan kekayan laut mereka tak tertandingi. Tapi kenapa mereka sering menjual Ubi, jagung, kacang hijau, mente mereka untuk membeli 1 bungkus Mie Instan dan 5 kg beras? OH well, i like mie instan, poor me!
Yuk kita balik ke jaman era Bapak Presiden Soeharto pada tahun 1984 dimana Swasembada pangan telah mencapai keberhasilannya, yang merupakan program penyeragaman beras hibrid dengan tujuan meningkatkan produksi beras nasional. Sehingga di lakukanlah penyeragaman pangan, semua masyarakat Indonesia berbondong-bondong meninggalkan pangan lokalnya, kenapa? Karena sejak saat itu stigma beras memiliki kedudukan tertinggi dibandingkan dengan pangan lokal lainnya. Beras itu seperti the ultimate food of all the years, padahal opsi pangan lokal lainnya juga bukan ide yang buruk. I would say our people at that time just being Fomo with the rice. Like they are literally forgot the ubi, jagung, pisang, kacang-kacangan, sorgum and then suddenly they just put all the concern on rice without thingking about their next generation, how if the rice doesnt exist anymore? How if the climate doesnt works as it should be? Is something gonna happen to our generation if we consume too much rice? Kek orang orang jaman dulu pernah kepikiran akan ada penyakit yang namanya Diabetes tidak sih kalau kebanyakan konsumsi beras? Atau kepikiran tidak kalau perubahan iklim akan berdampak pada pergeseran pola konsumsi? Apakah homogenisasi pangan ini akan long lasting dan berkelanjutan?
Kita sekarang dihadapkan pada perubahan iklim dan krisis pangan dimana 2 hal ini sangat berkaitan erat, perang di negara lain menyebabkan kesulitan mengimpor beras dari Ukraina, kemarau panjang atau musim hujan yang berlebihan menyebabkan gagal panen, kalau sudah begini harga beras jadi naik, harga cabaik makin mahal, dengan pendapatan perkapita kita yang ya allah ya allah ini, pasti kita akan demo di pemerintah, aksi mogok dan berbagai seruan lainnya. Padahal tidak selalu harus makan nasi.
Pengembalian pola konsumsi ke pangan lokal sebenarnya menjadi tawaran yang sangat solutif. Membuat kita lebih mandiri. Tidak melulu tunggu import beras dari luar. Tidak perlu proyek Food estate yang harus menggundulkan jutaan hektar lahan utk tanam padi, karena proses penggundulan ini kan dampaknya juga balik lagi ke masalah iklim. Yang perlu dilakukan adalah pertanian yang menghargai dan memanfaatkan potensi pangan lokalnya, dimana pola pertanian jaman dulu lebih adaptif terhadap perubahan iklim, ayok fokus ke apa yang menjadi potensi kita. Yang menjadi identitas kita. Kalau dulu nenek moyang kita makan jagung dan ubi lalu hidup dengan umur 90an sampai 100 tahunan, kenapa kita harus terperangkap pada usia 60an atau 70an dengan penyakit diabetes atau penyakit lainnya akibat pola konsumsi kita yang semakin berwarna dengan jajanan dalam kemasan elit?
Tidak harus merubah total apa yang kamu konsumsi, tapi alangkah baiknya kita secara bertahap tetap mengkonsumsi pangan lokal yang menjadi identitas kita. Makan apa yang kita tanam, tanam apa yang kita makan, sehingga kamu bisa berdaulat atas dirimu dan pola konsumsi mu. Juga untuk generasimu mendatang.
Komentar
Posting Komentar