Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Renovasi Mindset


Ini sebenarnya karena terlalu sering konsumsi lagu Renovasi otaknya Dialog Dini Hari, jdi yahhhh begitulah yang terjadi dengan judul tulisan ini. Sengaja dibuat sedikit berbeda agar tidak dianggap plagiat. Peace up!!

Kenapa juga Dialog Dini Hari melahirkan judul Renovasi Otak? Kenapa tidak Bedah Otak? Kenapa pula yang saya dengarkan adalah renovasi otak? Kenapa tidak sya dengarkan si manis Yasudahlah dari Nostress? Ahhh sudahlah, tidak penting karena punchlinenya berantakan dan cheesy sekali..
         

Kali ini, mari kita ulik sesuatu tentang pola pikir manusia diusia memasuki quater life crisis. Yepp. Memasuki quarter life crisis sepertinya sikap idealis kita terlihat sangat superior-Menunjukkan kuasanya bahwa harus ini harus itu, harus terlihat ideal. Titik.- tapi kita lupa sesuatu yang lain yang ada pada diri kita, yaitu sikap realistis yang mungkin saja terlihat inferior.

Begini, saking idealisnya kita -kamu dan saya- yang sedang ada di fase quarter life crisis ini, kita malah berujung pada sesuatu yang disebut insecure atau over anxiety. Padahal ini baru quarter, we dont even get the half, dude!! its just quarter!! Tapi kenapa kita sudah terobsesi sekali dengan hidup? We want a perfect love life with the one we love, a settle job which is have good salary without too much pressure on it, we want perfect date without any toxic friendship, we want a good family but in fact we do too much hang out, we want a good mental health but all we do is scrolling Tiktoc and watching kdrama which is we start to compare our life with that fakin fiction stuff dan ketika semua hal itu belum kita capai di usia ideal kita, kita malah jadi insecure dan over anxiety, lebih parahnya kita akan berpikir menggunakan perut bukan otak, intinya kenyang walaupun logika berteriak bahwa yang kita lakukan adalah salah. seolah olah semesta sedang menghukum kita atas kharma buruk yang kita lakukan di kehidupan terdahulu.. padahal sama sekali tidak!
Percaya atau tidak, orang-orang yang sudah pada taraf financialy stable, mentally stable, making a new family, dealing with their past itu adalah orang orang yang sudah menginjak usia 30an atau lebih, yang sudah mampu menyeimbangkan sikap idealis sang superior dan membuka celah bagi sikap realistis sang inferior untuk mulai mengintervensi kehidupannya. They had been going through a lot of shit.

Mempersiapkan segala sesuatu untuk kehidupan mendatang memang sangat perlu, tapi tolong sewajarnya saja. Jangan terlalu insecure karena kenalanmu sudah menggapai bintangnya sementara kamu masih sibuk membenahi istana pasirmu. Kita semua punya track masing-masing, nikmati dulu sekarangnya kita. Ketika kita terlalu larut dalam hal-hal yang membuat kita insecure, secara tidak langsung kita sedang mengirim sinyal negatif kepada semesta bahwa kita menikmati kesengsaraan ini. Maka yang datang adalah kesengsaraan terus, insecure terus.

Okey, listen! Otak manusia itu merupakan kekuatan superpower yang pernah ada dan semesta adalah belahan jiwanya. Ketika otak kita memikirkan sesuatu yang buruk, yang negatif, yang membuat kita insecure, maka semesta akan menerima sinyal itu dan memberikan hal yang serupa, tetapi jika kita ubah pola pikir kita dan memikirkan hal-hal positif, bersyukur, dan selalu menaruh percaya bahwa akan ada sesuatu menakjubkan di kehidupan kita mendatang, semesta akan melakukan tugasnya. Memberikan hal-hal positif yang kita percaya tadi.
Fase quarter life crisis ini bukan sekedar angka dan moodswing mau ini mau itu, tapi tentang cara kita mengelolah pikiran, perilaku dan mental.
Menerima keadaan, being realistic, bahwa semuanya memang memerlukan waktu. Realistis dengan keadaan sekarang, bahwa tidak apa-apa kalau bukan hari ini, toh hari ini kita akan tetap bersyukur dengan hal-hal kecil yang kita temui, masih bisa menyaksikan matahari terbenam, atau sekedar penasaran kenapa bunga melati berwarna putih dan bunga matahari berwarna kuning, bersyukur karena sore tadi hujan, dan yang paling penting adalah tetap percaya bahwa alam semesta ini telah menyediakan segala sesuatu untuk kita tepat pada waktunya.
Medan magnet terbesar bukan pada orang lain atau benda, melainkan pada diri kita, pada pola pikir dan perilaku kita. We atract what we think. Jadi pikirkanlah hal-hal positif, pikirkanlah apa yang akan kita lakukan, lakukanlah apa yang kita pikirkan, sisanya percaya pada alam semesta. Biarkan semesta bekerja.

                                                        *******

[Lol, ini catatan dini hari akibat dari rasa insecure si penulis juga, hahah.. semoga kita sama-sama bisa merenovasi pikiran😊😊😊.. sudah jam 2 dini hari, waktunya sleep, byeeeee]

~luv, kee💜

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peleburan Budaya di Tanah Flores

Membaca Pameran BARU, BARU. melalui kacamata Pariwisata

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan