Pernah terdengar bahwa swastamita lebih menawan dari sosok Arunika. Lebih magis. Lebih elok. Lebih memukau. Dan tentu saja, lebih banyak pemujanya. Tapi apakah kalian tahu, bahwa daya tarik sang Arunika bahkan mampu melawan gravitasi bumi. Membuat tersungkur dan menatapnya iri.
Kala itu aku berdiri di bawah naungan swastamita, pada hari ke sembilan belas di bulan februari tahun ini. indah memang. Dan aku terpukau di buatnya. Demi bertemu dengannya, aku bahkan mengenakan baju terbaik hari itu, pun merias wajah. Aku tidak ingin mengacaukan pertemuan kami ini. Ini harus menjadi pertemuan paling berkesan.
Lalu...
Di hari yang lainnya, masih pada bulan februari aku iseng-iseng bertemu dengan sosok Arunika. Aku menyiapkan segalanya, tidur cepat agar pagiku nanti bisa lebih lama dengannya. Aku tidak sempat membasuh diri dan memakai riasan, seperti apa yang kulakukan pada pertemuanku denggan swasmita. Wajahku masih diselimuti kantuk, lengkap dgn piama. Hari itu aku bertemu dengannya. Tepat pada waktunya. Tidak meleset.
******************
Pertemuanku dengan Arunika dan Swastamita mungkin tidak lebih indah dari pertemuan kalian dengannya. Ada orang yang demi ingin melihat indahnya Arunika, mereka rela mendaki gunung tinggi, menaklukkan semua rintangan, melawan lelahnya mendaki, dan yah memang benar sang Arunika sudah menunggu di tahta kebesaran nya. Menanti para pendaki dgn silau keemasannya, sebagai tanda permulaan dari suatu babak. Demikian juga yang terjadi pada fans garis keras Swastamita. Mereka menobatkan dirinya sebagai sang "penikmat senja", dan demi bertemu idolanya, ada yang menaklukkan jalanan panjang berjam-jam, lesehan di ribuan pasir sambil menyesap kopi atau sekaleng bir, bahkan mungkin ada yang rela membayar voucher beach club mewah dengan berbagai makanan yang namanya pun sulit di ucapkan, demi melihat swastamita di Bali. Membiarkan diri hanyut bersama kepergian sang idola, sebagai tanda suatu babak telah usai.
Efford yang kita keluarkan demi sesuatu yang kita inginkan tentu berbeda-beda, begitu juga dgn rintangan kita. We have our own efford, our own struggle, our own proccess. So dont ever compare your efford with your friend's efford. Bakalan percuma. Mungkin saja teman mu tipe penikmat senja di teras rumah dengan secangkir kopi dan pisang goreng, lalu kamu si penikmat senja dgn sebotol bir dan seloyang pizza, duduk di kursi warna warni di pinggir pantai batu bolong. Tujuan kalian sama, tapi efford yang kalian keluarkan tentu berbeda, pun dengan semburat nya. Kamu mungkin akan melihat full sunset dengan background langit jingga yang luas dan menghabiskan beberapa digit angka dalam tabunganmu, sementara temanmu menyaksikan potongan sunset dengan gedung-gedung tinggi sebagai backgroundnya, menghabiskan dua atau tiga ribu rupiah untuk membeli sebungkus kopi, menyeduhnya sendiri, menunggu pedangan pisang goreng lewat di depan rumahnya sebagai teman ngopi. Aku tidak mengatakan kalau kamu WOW dan temanmu MEHH. . Aku hanya ingin menyampaikan bahwa tujuan kita, keinganan kita mungkin sama, tapi tidak dengan hasil yang kita capai. Temanmu mungkin akan masuk lebih awal ke dalam rumahnya, sementara kamu harus memesan kendaraan untuk sampai di rumah. Tapi pernahkah kamu berpikir apa yang akan terjadi di antara 'adegan usai' ini? Kamu akan bertemu orang orang asing di jalan pulang, menyapa dan tersenyum kepada mereka mungkin sesuatu yang menyenangkan. Atau lebih hebat lagi jika kamu mendapat teman baru, mengobrol apa saja tentang impian kalian, atau apa yang akan kalian lakukan di hari esok, sementara temanmu akan melewati ruang tamu yang kosong, menuju dapur meletakkan cangkir sisa kopi tadi, lalu menuju ruang keluarga dan menonton acara tv bersama ibunya sambil tersenyum sederhana.
Percayalah, kamu dan teman mu tidak ada yang salah, kalian sama sama keren. Kalian sama sama penikmat senja.
Kembali kepada Arunika dan Swastamita, bukankah dalam foto yang kutampilkan mereka terlihat mirip? Arunika, awal dari suatu babak yang memberi kita kesempatan untuk berusaha, mempersiapkan diri sebaik mungkin agar akhir kita bisa indah, atau setidaknya kita telah berusaha menaklukan hari itu. Swastamita, penutup babak yang tidak menjudge kita sedikit pun. Entah kau berhasil menaklukkan kesempatan yang di berikan oleh arunika atau tidak, swatamita akan menutup babak itu dengan anggun. Memberimu jedah untuk bersitirahat, mengevaluasi diri , lalu memperbaikinya di babak selanjutnya. Begitu juga dgn hidup ini, Sukses di awal atau di akhir juga intinya sama sama sukses kan? Melihat senja di teras rumah atau di beach club juga toh yang kita pandangi juga senja. Sang swastamita. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersyukur. Always be grateful. And always santuy just like what +62 people do 😂😅. .
.
.
.
.
.
[Terinspirasi oleh cerita berbagi kulture]
.
~ cheers, Kee 😉.
Komentar
Posting Komentar