Sore memanglah waktu yang tepat untuk bersetubuh dengan rindu.
Memeluknya erat hingga yang tersisa hanyalah sesak di dada..
Menimbun pilu yang kian menggunung..
Membuat amygdala'ku memproses rasa takut berlebih daripada biasanya..
yah..
sore ini, sebelum malam benar-benar menggantikan kedudukan senja, aku ingin berdistraksi sejenak, mengganti rasa ketidaknyamananku akan beberapa hal yang berputar-putar dalam hipotalamus dengan diskusi hangat yang dilakukan oleh prefrontal lobes yang sungguh amat bijak.
fyi: Prefrontal Lobes melakukan penimbangan untung-rugi atas respon yang akan dilakukan jika amygdala memproses rasa takut yang berlebihan, jika pada hewan prefrontal lobes hanya memberikan 2 respon yaitu lawan atau lari, pada manusia lebih banyak alternatif yang ditawarkan. mulai dari lawan, negosisasi, diskusi, merayu, hingga alternatif terakhir yaitu berlari. sejauh mungkin hingga rasa takut atau cemas itu hilang.
Beberapa menit yang lalu, aku di permainkan oleh amygdala'ku sendiri. Ia memproses rasa takut, khawatir, & cemas yang berlebih hingga aku bingung harus ku apakan emosi ini.
pertanyaan pertanyaan sederhana seperti :
*kapan kau bisa bangun pagi?
*jam berapa kau akan makan siang?
*apa menumu hari ini?
*kenapa selalu tidur larut ?
*sampai kapan mau seperti ini? ("seperti ini" saja terdengar sangat absurd, bahkan aku bingung harus menerjemahkannya seperti apa)
*kapan kau akan lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak?
*kapan mau settle things down and chillin with your past?
sampi pertanyaan rumit seperti :
*apa tujuan hidupmu?
Dan yang aku lakukan hanya menghela napas panjang, berusaha menjaga jarak di setiap pertanyaan satu dan pertanyaan lainnya, sehingga aku ada cela untuk meminta bantuan pada sang bijak prefrontal lobes, berharap dia memberikan alternatif terbaik ketika menerima informasi dari kelima indra ku.
yahh, asal kalian tau, indraku ini sangat tidak berperikemanusiaan padaku.
Ada kalanya, mataku melihat beberapa temanku yang sukses sementara aku masih duduk menyusun kepingan puzzle yang aku sendiri tidak tau seperti apa gambaran awalnya. Lalu rasa iri mulai bangun dari tidur sucinya. ahh bukan saja iri, terkadang aku mencemooh, berakting bahwa yang mereka lakukan hanyalah hal kecil tak berguna yang siapapun bisa melakukannya. Namun di dalam diri paling paling palinggggg dalam, sesuatu yang hidup di dalam sana merasa sangat tertinggal jauh. merasa tak berdaya. merasa harus berlari dan mengejar sesuatu yang tertinggal itu. atau berlari sejauh mungkin dan melupakan yang tertinggal itu. hilang.
Tapi beberapa menit setelahnya, sang bijak prefrontal lobes sudah mulai bekerja dengan maksimal. Ia perlahan menyapa amygdala'ku, merayunya sejenak, lalu memberitahu bahwa kecemasan itu tidak lebih dari sekedar sampah yang akan memenuhi central neurvous system dalam diriku. Diriku yang bernama ini tak akan lebih dari sekedar daging dan tulang yang berjalan sesuai perintah lingkunganku jika aku terus berkutat dengan rasa cemas akan ketidakberdayaanku. Hidup tapi tidak hidup. Mati namun bernyawa. kecemasan berlebih itu tidak sehat. itu sama halnya dengan memproduksi racun dalam tubuh ku.
"kalau temanmu sudah sukses dan kau belum, dunia ini tidak akan hancur. Hitler tidak akan memarahimu. Tidak apa-apa jika kau mendapatkan nilai yang kecil dalam ujian, einstein tidak akan memberikan hukuman padamu, itu hanyalah angka pada selembar kertas, pembuktian tak bermakna yang selalu di puja makluk hidup bernama manusia. jika temanmu sudah memiliki pasangan dan kau belum, itu juga sesuatu yang biasa saja yang tidak perlu di khawatirkan, toh kau juga akan bertemu jika sudah waktunya. Dan mengenai ketertinggalanmu? kau pikir kau benar-benar tertinggal? kau pikir ini sebuah ajang perlombaan? kau tau mengapa Amygdalamu yang begitu sensitif mempertanyakan "apa tujuan hidupmu?", itu karena akumulasi dari segala kecemasan yang terjadi di dalam amygdala yaitu tentang mepertanyakan dirimu. jika kau berpikir hidup ini adalah sebuah lomba dan tujuan hidupmu adalah untuk memenangkan perlombaan tersebut, maka kau akan berakhir dengan selalu tertinggal. selalu iri dan selalu saja tidak puas. Tetapi mari kita lihat hidupmu, kau bahkan tidak memiliki sesuatu yang perlu di cemaskan. hidupmu indah, kau bisa menyaksikan matahari terbenam dengan begitu indah, kau bahkan bisa bercanda dengan pepohonan yang melambai riang, dengan bunga matahari yang tersenyum manis kearahmu, dengan anjing liar yang tersesat di ujung gang, dengan orang asing yang bahkan tidak tau bahasa mu, kau bisa makan dengan layak, tertidur dengan lelap, masih mendengar betapa berisiknya alarmmu. Semua itu indah jika kau melakukannya tanpa membandingkan kehidupanmu dengan orang lain. Satu hal lagi, abaikan saja pertanyaan-pertanyaan seperti kapan wisuda, kapan mendapatkan pekerjaan, kapan menikah, dan kapan kapan lainnya, karena yang kau lakukan adalah hidup bukan mengejar dateline. Tidak perlu merasa iri atau tertinggal, semua sudah di perhitungkan. sudah sesuai porsinya. Yang harus kau lakukan adalah menjalani kehidupanmu dengan baik ataupun tidak baik. semuanya kembali padamu. karena jagat raya yang besar ini tidak akan mencemooh makluk kecil seperti dirimu jika kau melakukan sesuatu yang melenceng dari aturan - aturan manusia, juga tidak akan bertepuk tangan ria saat kau melakukan segala hal dengan sangat baik. kau hanya akan tetap menjadi dirimu dengan segala keindahan yang kau ciptakan. satu hal yang perlu kau lakukan hanyalah berdamai dengan dirimu sendiri. tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan, tidak perlu memaksakan kehendakmu untuk menjadi ini, menjadi itu, semua akan terjadi begitu saja. tetap tenang. tetap bertindak, tetapi jangan memaksa, karena sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir dengan indah. lihat saja kuncup mawar di taman, ia akan menjadi indah ketika mekar sesuai waktunya, bukan di mekarkan secara paksa oleh si pemilik taman. Sama halnya dengan dirimu."
ini percakapan terpanjang yang pernah dilakukan prefrontal lobes terhadap segala indra dan amygdalaku. Peralihan nyeriku kini tidak lagi tentang percakapan receh atau khayalan anak tk, tetapi tentang bagaimana melihat hidup dari lensa yang berbeda. Tentang petualangan indah tak berujung, bukan sekedar ajang perlombaan dengan dateline tertentu..
senja sudah benar benar di ganti posisinya oleh malam, aku juga harus segera pergi, memulai kembali segalanya. Menghidupkan hidupku. Menjalani petualanganku..
uhh damn, dis gal is pshyco. wkwkwwkwkw
much love, kee 👄😍
Komentar
Posting Komentar