Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Sister's secret




Ini mungkin terlalu picisan untuk dijadikan sebuah kisah..
Mungkin terlalu berlebihan jika ku sampaikan secara langsung. 
Ahh.. tapi kalau tidak kusampaikan langsung, aku akan kehilang momen ini. 
Hmmm.. bagaimana caranya aku menjelaskannya yah?

           ***************************

Dia pemilik wajah oval yang sempurna..
Pemilik rambut hitam pekat yang tergerai panjang, begitu kontras dengan warna kulitnya yang menyerupai cahaya bulan. 
Putih. Bercahaya. Namun tidak menyilaukan. Indah sekali.
Oh iyaa.. aku juga memperhatikan matanya. Kalian tahu? Ketika dia tersenyum, matanya juga seperti ikut tersenyum. Teduh sekali memandanginya.
Tapi dia juga si cemberut.
Si pemarah.
Si nenek sihir. 
Jujur saja sekarang ini aku sedang tersenyum membayangkan wajahnya. Ahhh aku rindu..

Dia seseorang yang pekerja keras. Selalu berusaha menjaga apa yang menjadi miliknya. Dan mendapatkan apa yang dia inginkan. 
Tidak muluk-muluk, dia hanya ingin hidup sederhana dan yahh bahagia..
Walaupun aku tidak tau definisi bahagia yang ada di kepalanya, setidaknya itu yang pernah dia ucapkan padaku dulu.

Katanya, "aku ingin hidup bersama orang yang kucintai, hidup sederhana bersamanya. Pasti akan sangat bahagia."

Kala itu, aku tidak sepedendapat dengannya. 
Ku jawab saja, " kalau aku, aku ingin hidupku mewah. Punya mobil. Punya rumah bagus. Menjadi wanita muda yang sukses.. pokoknya aku tidak ingin hidupku sesederhana yang kau bayangkan."

Dia tersenyum ke arahku, tangan lembutnya mengusap kepalaku, lalu dia bersuara lagi. "Kelak kalau kau sudah jadi wanita sukses, jangan lupa mengunjungi kakakmu ini. Kelak, kalau kau sudah sukses, jangan lupa ajak kakakmu ini keliling dunia."

Lalu kami tertawa terbahak-bahak. Sampai air mata kami tumpah di sudut mata. 
Kami selalu begitu, selalu berhayaal, selalu tak sependapat, selalu berdebat soal hal sederhana. 

Pernah di suatu kesempatan, kami bercerita hingga larut malam, mungkin hampir subuh.. bercerita soal para pria yang kami kagumi. Berdebat mengenai tipe pria kami masing-masing.
Namun tanpa dia sadari, aku lebih mengaguminya daripada pria yang kuceritakan padanya. Aku lebih senang mendengarnya bercerita tentang kisah cintanya dibanding harus mengutarakan kisah cintaku yang biasa-biasa saja.
Hmm.. apakah dia tahu kalau aku fans beratnya?
Aku ingat kalau saat kecil dulu, aku selalu ingin seperti dirinya. Cantik, pintar, dikagumi banyak orang, supel, pokoknya aku ingin seperti dirinya. Ada kalanya rasa iri menyelinap masuk kedalamku, membisikan kenapa dia begitu rupawan dan aku tidak?
Segala hal yang dilakukannya selalu aku ikuti, dengan asumsi bahwa kelak aku berubah menjadi rupawan seperti dia.
Hingga pada suatu kesempatan ketika aku tumbuh menjadi remaja, dia membisikan ini ke telingaku "wahh.. cantik sekali, adik siapa ini?" Itu pujian sederhana yang entah kenapa membuat ku bahagia. Bayangkan saja kalau misalnya kalian mempunyai idola, lalu idola kalian memuji kalian. Pasti seneng kan? Itu yang ku alami.

Adakalanya kami merenung tentang hidup ini, aku si pengeluh dan dia si penasihat.
 "Kita hanya punya dua tangan. Gunakan itu utk bekerja, bahagiakan diri kita sendiri dengan dua tangan itu. Kalau ada yang berkata miring terhadap kita, jangan kamu gunakan 2 tangan itu untuk menutup mulut mereka. Mereka terlalu banyak, dan kamu pasti akan frustrasi dibuatnya. Cukup gunakan dua tangan itu utk menutup telingamu sendiri. Dengan begtu ocehan mereka tak lagi bermakna, bukan?" Katanya waktu itu karena aku terlalu sering mengeluh.

Yahh.. waktu itu.
Waktu ketika aku mengaguminya.
Waktu ketika aku menobatkan diriku sendiri menjadi fans garis kerasnya.
Sekarang...
Hah?? Apa yang terjadi di masa kini?
Apakah aku mengganti idolaku?
Jawabannya TIDAK.
Aku masih menjadikan dia sebagai role model ku
Aku masih sering menceritakan kejadian2 memalukan yang kuhadapi di sini.
Aku masih memperdebatkan tentang tipe pria idaman kami..

Ahhh pria idaman..

Dia sudah menemukan prianya.
Pria idaman yang akan membuatnya bahagia menurut versinya, tentu saja.
Pria yang akan berjalan di lorong gereja menuju ke altar bersamanya..
Pria yang akan bertanggung jawab atas senyum dan tangisnya.
Pria yang mencintainya.

I love you.

Yes.. i love youuu.

Terima kasih sudah menjadi wanita terhebat kedua dalam hidupku.

Semoga cepat menjadi Ny. XXXX 😂😂
I love youu, kak..


Note : tulisan dari si adik gabut ini silahkan di abaikan sja, tapi kalau kalian merasa kakak perempuan kalian hebat dan kalian menyayanginya, kenapa tidak di katakan saja padanya? 😆😆..




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peleburan Budaya di Tanah Flores

Membaca Pameran BARU, BARU. melalui kacamata Pariwisata

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan