Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Sepotong percakapan langit




Senja berbisik saat pandanganku beradu dengan langit..
Katanya "jangan menanti, dia akan tetap seperti ini. Jangan berharap, dia tak akan berubah"

Aku ingin membalas.. 
Tapi langit mendahuluiku..
Katanya "apa yang sebenarnya kau inginkan? "

"Menikmatimu" bisikku pada langit tanpa memperdulikan senja.

Tapi yang kulihat justru senja.. 
Aneh..

"Kau menikmati senja. Bukan aku" suara langit terdengar cemburu

Lalu senja tersenyum angkuh.. 

"Tidak. Aku menikmatimu. Benar-benar menikmatimu" aku masih bersikeras pada langit..

"Kalau kau menikmatiku, kenapa kau pergi begitu senja hilang?"
"Kalau kau menikmatiku, kenapa datang hanya saat ada banyak bintang di malam hari?"
"Kalau kau menikmatiku, mengapa menjauh begitu kutampilkan matahari?"
"Kalau kau menikmatiku, mengapa berlari begitu kujatuhkan hujan?"

Langit mulai kesal..
Kulihat sang senja menciut begitu langit mulai gelap..
Lenyap..
Hilang entah kemana..

"Itu karena.. karena aku ingin melihat...." suaraku tertahan, tak mampu berjalan keluar, malu-malu ia masuk lagi kedalam perut..

"Di mana bintang?" Aku berusaha mengalihkan topik..

Karena yang tersisa hanya aku dan langit.. tak ada senja.. 

"Kau mencari bintang? Mereka sedang terlelap di balik awan" 

Aku mengangguk..
Langit tersenyum lembut, namun suara gemuruh keluar dibaliknya.. 

"Nikmati gelapku.. " bisik langit tiba - tiba

Alisku salit bertaut, mengekspresikan ketidakmengertianku.. 

"Nikmati aku. Nikmati gelapku. Nikmati kekosonganku. Nikmati apa yang kutampilkan.. agar nanti hatimu tak akan hancur begitu kutampilkan mendung.. agar bahagiamu tidak hanya bergantung pada senja.. agar senyummu tidak hilang begitu hujan mulai turun. Nikmati kekosonganku, agar tak ada alasan untuk kau pergi. Nikmati kekosonganku, karena dengan begitu, kau juga tak ada alasan untuk membenciku. Tetaplah menatapku. Tetaplah menikmatiku, bahkan jika aku berubah setiap saat."

Aku tersenyum mengerti..

Kulihat tatapannya semakin teduh..

Namun semakin gelap..

Lalu yang tersisa hanya diri kami yang kosong.

Berusaha menerima satu sama lain apadanya..

Tanpa tuntutan

Tanpa paksaan

Dan begitu seterusnya.. 

Saling menikmati..

Saling mencintai..

 .
.
.
.
~kee😂






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peleburan Budaya di Tanah Flores

Membaca Pameran BARU, BARU. melalui kacamata Pariwisata

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan