Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

How can love like this?

Mereka bilang, ada 2 kesalahan yang di lakukan cinta,,

Pertama, ia datang pada orang yang tepat, di waktu yang salah.

Kedua, ia datang di waktu yang tepat, kepada orang yang salah.

                                   ***

Aku tidak pernah berencana untuk mencintai kekasih seseorang. Tidak sekalipun.

Hingga takdir mempertemukan aku dengannya -yang telah menjadi kekasih seseorang di luar sana- entah siapa.

Untuk wanita yang telah menantikannya, maafkan aku yang menghambat proses pulangnya dia dalam pelukmu.

Untuk wanita yang menaruh percaya atas janji yang dia gaungkan dulu, maafkan aku yang telah berhasil menggoyahkan semua janji-janjinya padamu.

Aku tau, aku tidak perlu lagi bertanya apakah ini benar? Apakah yang telah ku lakukan ini salah?

Aku hanya ingin bertanya,  adakah cinta yang tumbuh atas sebuah kesalahan? Atau keadaan yang membuat semuanya terasa salah?

Haruskah aku menyalakan keadaan?

Kenapa harus ada cinta yang seperti ini?

Perasaan yang membuatmu bahagia bukan kepalang, namun ada hati yang sedang bersedih menangisi kehilangannya.

Kenapa aku harus bertemu dengannya,

Kenapa dia membuatku seperti ini, menaruh harapan besar kepadanya, sementara dia bahkan belum menyelesaikan kisahnya dengan hati yang lain.

Aku telah mencari jawaban atas pertanyaanku, namun aku tak berhasil menemukan apapun selain kamu. Kau meraup semua pikiranku. Tak ada orang lain lagi. Hanya dirimu yang ku temukan.

Lalu,, apakah ini di sebut cinta?

Sejak pertama kali kita bertemu, aku tau itu hanyalah sebuah kebetulan. Namun kali kedua kita di pertemukan lagi dengan kondisi yang berbeda. Ahh.. mungkin itu juga hanya kebetulan. Namun, kali ketiga ketika kita berpapasan di jalan, apakah itu juga hanya sebuah kebetulan?

Aku bahagia dengan rasa nyaman yang kau ciptakan di antara kita. Aku bahagia dengan perhatian yang curahkan hanya untukku. Tapi bahagiaku terasa salah. Bahagiaku melukai hati yang lain.

Aku sungguh bingung.

Aku benar-benar dilema.

Pada saat seperti ini, aku tidak bisa memilih pergi meninggalkan orang yang kucintai, atau tetap bertahan dengan membiarkan orang yang kucintai menyakiti hati yang lain. Egois memang.

Aku bahkan tau, ini bukan sebuah pilihan yang mudah, namun jatuh hati padamu juga bukan inginku.

Untuk wanita yang selama ini menemaninya, maafkan aku yang telah mengusik hubungan kalian. Namun ini bukan inginku. Percayalah, aku tidak ingin menyakitimu.

Beginikah cara cinta menyapaku?

Menguji, apakah aku sanggup bertahan, saat ada hati yang lain tersakiti, atau berlari sejauh mungkin, menata ulang hati yang telah jatuh pada orang yang salah.

***

Uhhhhh😢😢😢..

Malam-malam galau, tulis yang beginian. Wkwkwk

~ see ya

Kee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peleburan Budaya di Tanah Flores

Membaca Pameran BARU, BARU. melalui kacamata Pariwisata

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan