Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Masa pemerintahan Raja Don Thomas Da Silva

 Tulisan ini merupakan sebuah perjalanan pulang ke masa lalu. Perjalanan panjang yang bukan sekedar pulang dan beristirahat saja, namun lebih dari itu tentang makna "pulang" yang akan menghantar kita untuk menyentuh bekas-bekas kejayaan kota kecil di Timur Flores, dengan kisah yang kokoh namun manis.


Perjalanan pulang ini mungkin tidak akan utuh jika kita tidak tau kemana arah pulang atau kepada siapa kita harus pulang. Rumah sekaligus sosok yang akan dengan senang hati menerima dan berkenalan dengan kita adalah dia sang Raja Sikka ke-XV, Ketua Dewan Raja-Raja Flores dan sekaligus Kepala Daerah Flores yang Pertama Raja Don Josephus Thomas Ximenes da Silva.


Namanya terdengar asing untuk generasi kita, bahkan jika berani bertaruh ada beberapa dari generasi ini yang mungkin tidak tahu ada nama semacam itu. Perasaan keterasingan ini sebenarnya sangat wajar, selain karena gap antar generasi mungkin juga karena nama-nama raja yang kita tahu adalah raja-raja besar jaman Majapahit karena hanya itu yang diajarkan saat pelajaran sejarah jaman sekolah menengah, atau bahkan pengagum korea mungkin lebih akrab dengan raja-raja dari Dinasti Juseon melalui kdrama, untuk itu mari kita pulang dan berkenalan dengan figur agung sosok pemimpin yang teguh dalam berprinsip, yang menyatukan ciri kontroversial (aristokrat, feodalis, demokratis, dan humanis) dalam dirinya dalam membangun Sikka.

****





Pelantikan Don Josephus Thomas Ximenes da Silva menjadi Raja Sikka terjadi pada tanggal 14 November 1925, meleburkan 3 wilayah kerajaan menjadi 1 kerajaan di wilayah Onderafdeling, Maumere.
Hal ini dilakukan oleh Pemerintah Belanda sebagai bentuk Penghematan biaya, maka diambillah kebijakan peleburan 3 wilayah kerajaan, yang semula terdiri dari kerajaan Kangae dengan Rajanya bernama Raja Nai Juje dengan masa pemerintahan selama 23 tahun (1902-1925), kerajaan Nita dengan Rajanya bernama Don Yuan da Silva dengan masa pemerintahan selama 16 tahun (1909-1925), lalu kerajaan Sikka dengan Rajanya Don Josephus Thomas Ximenes da Silva.

Peristiwa upacara pelantikan ini berlangsung dengan penuh hikmat dan rasa persaudaraan, tidak ada kekerasan ataupun pertumpahan darah. Pada peristiwa ini juga hadir Residen Kupang, asisten Residen Flores, controleur Maumere, para pejabat, tua-tua adat serta masyarakat, serta Raja Nita Don Yuan da Silva dan Raja Kangae Nai Juje.

Menjalankan kerajaan serta memegang tongkat pemerintahan yang telah di amanatkan kepadanya merupakan sesuatu yang tidak mudah, Raja Don Josephus Thomas Ximenes da Silva memikirkan bagaimana cara membangun kerajaannya yang luas, sehingga bersama pemerintah Belanda melalui berbagai rancangan disepakati untuk membentuk 6 Gemeente atau wilayah pemerintahan yang tentu saja dilengkapi dengan kepala distrik yang disebut KAPITAN. Penetapan wilayah pemerintahan ini dijalankan bersamaan dengan penetapan struktur pemerintah yaitu berbentuk desentralisasi, dengan sistem kelembagaan adatnya dipimpin oleh Raja, lalu Kapitan selaku wakil pimpinan, Tana Pu'ang selaku kepala adat dari setiap kampung, dan terkahir Gai Mangunglajar selaku anggota dan beberpa pemuka masyarakat yang dianggap mampu seperti Mo'ang Watu Pitu, Boge Hage, dan Ata Ria Bewa. Lembaga ini berhak dan memiliki otoritas untuk membuat keputusan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada masa kerajaan tersebut.

Pada tahun-tahun awal pemerintahan Raja Don Thomas (1925), Ia membangun jembatan besi Batik wair dan Nanga Gete (jembatan A & B) yang juga merupakan jembatan pertama di daratan Flores, dengan konstruksi yang sama beliau memerintahkan untuk membangun beberapa jembatan lainnya di wilayah Gemeente yang berbeda, yaitu jembatan besi di Kaliwajo (1933), jembatan besi Patiahu (1936), jembatan besi Waigete (1938) dan jembatan besi Waiara (1939). Selain pembangunan jembatan besi, Raja Don Thomas juga mengerahkan seluruh lapisan masyarakat untuk melanjutkan pengerjaan jalan raya yang telah dikerjakan sejak tahun 1915. Bayangkan pada jaman itu tidak ada alat pemberat atau mesin untuk memperlancar segala pengerjaan, yang ada hanya tekat sekuat baja, kaki yang kokoh menopang tubuh yang lelah lebih dari biasanya, dan kemauan untuk memperoleh hidup yang layak. Dalam buku sejarah kita boleh menyebutnya kerja rodi atau Herendienst dalam bahasa Belanda.




Tidak hanya pembangunan infrastruktur, Raja Don Thomas juga memperhatikan bagaimana masyarakatnya dapat memperoleh air bersih, karena pada kenyataannya jaman tersebut masyarakat Flores pada umumnya hanya mampu mengkonsumsi air dari pohon pisang sebagai pelepas dahaga, sehingga Raja Don Thomas mengadakan program penggalian mata air dan mengerjakan sumur di Geliting, Bolawolon, Wairhubing, Waioti, Maumere, Paga, Nebe, Talibura, Napunao, Ililewa, hingga Palue. Pengerjaan penggalian mata air ini menghantarkan Raja Don Thomas pada Sumber mata air Wair'Puang yang ternyata sangat melimpah. Sehingga tanpa banyak pertimbangan, didatangkanlah pipa minyak bekas dari kalimantan dan dilanjutkan dengan pemasangan pipa air sepanjang 22 kilometer melewati Nita, Koting, dan berakhir di Nelle. Mata air wair pu'ang ini juga sebagai sumber mata air utama untuk memenuhi kebutuhan di kompleks Seminari Tinggi Ledalero dan Retapiret.

Dibidang kesehatan, atas keprihatinan Raja Don Thomas karena penyakit malaria dan penyakit menular lainnya, maka didatangkanlah dr. De Ruyter dari Ende dan dr. Meyer dari Larantuka, hingga dokter keturunan jerman yang akhirnya berdiam di Lela. Pada tahun 1930, berkat diskusi yang dilakukan antara Raja Don Thomas bersama pihak Missie Katolik, dibangunlah Rumah Sakit Lela lengkap dengan segala fasilitas dan rampung pada tahun 1934. Rumah sakit ini menjadi tersohor dan mengundang banyak pasien dari seluruh Nusa Tenggara Timur untuk melakukan pengobatan.
Tak ketinggalan dari bidang kebutuhan yang lainnya, bidang pendidikan juga mendapat sorotan dari raja Don Thomas, pada tahun 1935 pimpinan gereja mencanangkan untuk memindahkan lokasi Seminari tinggi Todabelu ke daratan Flores, Hokeng. Namun karena masalah meledaknya penyakit malaria di Hokeng, sehingga pemindahan lokasi seminari tersebut berbelok ke Sikka.
Pada tahun 1937, seminari Tinggi Ledalero secara resmi telah beroperasi dengan siswa pindahan dari Todabelu
Menariknya nama Ledalero ini berasal dari bahasa asli Sikka yang secara harafiah berarti "Menaruh Matahari diatasnya", namun secara simbolis, nama Ledalero juga berarti "tempat yang memancarkan terang ilmu dan kebijaksanaan".
Setelah berakhirnya perang dunia II, Raja Don Thomas bersama para guru di Lela yang merupakan kelompok elit jaman itu mengajar standaard school(sekolah rakyat 5 thun), juga berkonsultasi dengan pihak Missie katolik merencanakan lagi untuk mendirikan Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) yang pada akhirnya didirikan pada tanggal 1 mei 1947. SMP Yapenthom merupakan sekolah lanjutan pertama di Maumere, bentuk pembayaran spp jaman itu pun masih menggunakan hasil bumi seperti pemungutan retribusi kopra.

Selain pembangunan dibidang infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya beliau juga melakukan berbagai terobosan untuk pengembangan lahan kering menjadi lahan pertanian.
Ia juga merupakan seorang Raja yang sangat bijak dan cerdas, ia memperhatikan pola hidup masyarakat yang berpotensi memiliki dampak negatif, beliau menyatakan keprihatinannya dengan upaya perbaikan melalui motivasi penyadaran, antara lain masalah gadai menurut adat, kesusilaan dan kesopanan, serta menurunkan angka mas kawin (belis) mulai dari proses peminangannya hingga tahap perkawinan.

Hal menarik lainnya yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Don Thomas yaitu pemberian nama Maumere yang kini menjadi nama kota kabupaten Sikka. Pasalnya nama wilayah ini adalah Alok Sikka. Dalam bahasa Sikka, Alok=pelabuhan. Jadi alok sikka adalah pelabuhan Sikka. Wilayah alok sikka meliputi kampung kabor dan kota uneng yang kita kenal sekarang ini.
Menurut almahrum Mo'ang Aleksius Boer Parera, mantan Kapitan Gemeente wolokoli (yang sekarang menjadi kec. Bola), bahwa pada saat itu pemerintah Belanda menugaskan tim ekspedisi untuk menggambar peta pulau flores, dalam tim ekspedisi ini beberapa diantaranya adalah orang Ende, saat mereka tiba di Alok Sikka mereka (orang Ende) ini dipenuhi kekaguman atas pelabuhan yang besar dan strategis di depan mereka. Dihadapan pelabuhan ini terdapat gugusan pulau yang muncul ditengah samudra biru yang luas, lalu secara spontan mereka menyebutnya "Maumere". Dalam bahasa Ende, Ma'u artinya pelabuhan dan Mere artinya besar, sehingga kata Maumere ini tersebar ke seluruh pelosok kampung dan orang-orang mulai menyebutnya Maumere.





Pada tahun 1946 setelah kemerdekaan, raja Don Thomas diutus sebagai ketua delegasi dewan raja-raja sehubungan dengan pembentukkan Negara Indonesia Timur, pada tanggal 30 mei 1949 Raja Don Thomas dilantik menjadi kepala daerah Flores yang pertama oleh perdana menteri NTT Ida Anak Agung Gde Agung.
Namun pada tahun 1951 beliau menyerahkan jabatannya tersebut kepada penggantinya L.E. Manteiro dengan alasan kondisi kesehatan beliau yang sedang terganggu. Sehingga tercatat raja Don Thomas hanya menjabat 2 tahun sebagai kepala daerah Flores, dan pada tahun 1953 beliau dipensiunkan dengan surat keputusan menteri dalam negeri.

Raja Don Thomas juga merupakan Raja yang berani melawan kebringasan pemerintah Belanda demi membela rakyatnya, beliau juga merupakan tokoh utama peletak dasar pembangunan di Kabupaten Sikka, apalgi sikap feodalisme Raja Don Thomas diterapkan secara positif demi kepentingan rakyatnya.

Mengutip kalimat sang sejarawan lokal, bapak D.D Parera Kondi (1886-1962),
Barang siapa tahu mana yang kurang, tambahkanlah saja, supaya membulatkan kata dan kalimat serta isinya, moga-moga sempurnalah hikayat ini. Karena maklumlah tuan tuan pembaca, sedang gading ada retaknya.





****
Semoga perjalanan pulang kalian menyenangkan. 
.
.
.
.
.
.
Referensi : 
E.P Da Gomez, Oscar P.Mandalangi. Don Thomas, Peletak Dasar Sikka Membangun. 2003

Komentar