Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Anak perempuan ayah

Ada hal yang ingin di ungkapkan, ketika anak perempuan itu berlari ke pelukan sang ayah.. Ada yang ingin di ceritakan, ketika anak perempuan itu menyelinap ke dapur mencari sang ibu.. Tapi yang ia lakukan hanya menatap rumah kecil itu dari kejauhan.. Terlintas bayangan sang ibu yang menyiapkan makanan.. Sederhana memang, namun tak kalah juaranya seperti masakan restaurant elit. Terbersit senyuman ayahnya yang menceritakan karakter karakter hebat dalam buku favoritnya. Sambil menyeduh teh hangat sore itu di temani pisang goreng sang ibu. Sempurna dalam balutan kota kecil yang sederhana. Anak perempuan itu ingin masuk.. Menceritakan segalanya.. Keluh kesahnya dalam perjalanannya.. Ingin berteriak pada orang di jalan yang menumpahkan kopi di bajunya.. Ingin memaki orang yang menabraknya dari belakang. Ingin menangis saat terjatuh karena begitu padat jalanannya.. Kakinya lalu beranjak masuk.. Melewati pagar bambu bercat putih itu.. Melewati undakan kecil sebelum mengetuk ...

Sepotong percakapan langit

Gambar
Senja berbisik saat pandanganku beradu dengan langit.. Katanya "jangan menanti, dia akan tetap seperti ini. Jangan berharap, dia tak akan berubah" Aku ingin membalas..  Tapi langit mendahuluiku.. Katanya "apa yang sebenarnya kau inginkan? " "Menikmatimu" bisikku pada langit tanpa memperdulikan senja. Tapi yang kulihat justru senja..  Aneh.. "Kau menikmati senja. Bukan aku" suara langit terdengar cemburu Lalu senja tersenyum angkuh..  "Tidak. Aku menikmatimu. Benar-benar menikmatimu" aku masih bersikeras pada langit.. "Kalau kau menikmatiku, kenapa kau pergi begitu senja hilang?" "Kalau kau menikmatiku, kenapa datang hanya saat ada banyak bintang di malam hari?" "Kalau kau menikmatiku, mengapa menjauh begitu kutampilkan matahari?" "Kalau kau menikmatiku, mengapa berlari begitu kujatuhkan hujan?" Langit mulai kesal.. Kulihat sang senja menciut b...