Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Rasionalitas Dunia, dan Ruang Ajaib yang Masih Bertahan

Gambar
Saya memulai perjalanan ini dari kota Pohon Beringin yang dingin- Ruteng-, walau begitu tulisan ini saya curahkan sepenuhnya kepada sebuah kota kecil di tengah pulau flores, yang memiliki sumber air namun tak punya pantai. BAJAWA. Orang bule menyebutnya dengan BAYAWA.                                                Kalau harus menoleh pada tahun 1945, 18 agustus pagi hari yang mungkin cerah-mungkin juga tidak, sedang berlangsung peristiwa persiapan pengesahan UUD 1945 yang telah merdeka dari Jajahan Belanda, namun saat ini di tanggal 18 agustus 2025 di pagi hari yang berkabut tinggi di Bajawa, saya sedang melayani perjalanan lintas flores bersama sepasang suami istri Belanda (Zuid-Holland) berusia akhir 70an.  Kami menginap di Penginapan Manulalu B&B Hotel berlokasi di Jl Mangulewa - Jerebu'u, Tiworiwu. Pagi itu sesuai agenda, kami lebih dulu mengunjungi Desa A...

Membaca Pameran BARU, BARU. melalui kacamata Pariwisata

Gambar
Berangkat dari menghadiri pameran BARU, BARU.  pada Festival MAUMERELOGIA 5 yang diselenggarakan oleh Komunitas KAHE dalam kolaborasinya bersama RUBANAH, pada hari Rabu, 15 mei 2025, bertempat di Aula Karmel, Wairklau, pameran ini pada akhirnya membuat saya pulang dan berpikir, berkali-kali. Saya mendapati diri mulai merasakan keresahan yang sama, ruangan Aula Karmel seketika berubah menjadi ruang Kontemplatif tentang luka sejarah, demokrasi yang semu dan relasi kuasa yang terus berulang.  Diskusi publik bertajuk Analetica : Menciptakan Masa Lalu yang Lebih Baik menghadirkan perspektif mendalam tentang bagaimana sejarah pinggiran dapat menjadi kunci membongkar masa kini yang timpang.  Menariknya, jika pameran BARU, BARU. dibaca dari perspektif pariwisata. Pameran ini menyuguhkan refleksi kritis yang mendalam tentang wajah baru kolonialisme dalam industri pariwisata, secara khusus ekowisata. E kowisata kerap hadir dengan janji mulia : melestarikan lingkungan, memberdayaka...